Hermawan Kertajaya Memandang Betawi sebagai Peradaban

| dilihat 282

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

Sesi pamungkas dalam Rapat Kerja Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Sabtu (9/3/19) paling menarik. Presentasi khas begawan marketing Indonesia, Hermawan Kertajaya (HK), pendiri dan President MarkPlus Inc.

LKB meminta HK, bicara tentang, "Branding Budaya Betawi sebagai Ruh Budaya Jakarta." Dan HK, memberikan lebih dari itu. HK tak hanya memberikan branding, dia juga menawarkan paradox marketing dan sekaligus paradox budaya.

Dalam konteks Betawi, HK menegaskan, Betawi adalah peradaban, sivilisasi. Jauh dari sekadar budaya.

Di awal presentasinya, HK menawarkan gagasan menarik terkait perubahan minda (tata pikir) tentang dimensi budaya Betawi sebagai ruh budaya Jakarta, sambil menempatkan Betawi dalam konteks global dan Indonesia, tidak lagi tertambat di masa lalu dan hari ini, melainkan menempatkannya di hari esok, di masa ketika generasi millenials memainkan peran strategis secara fungsional, proporsional dan profesional.

Creative kick off dimulai dengan mengubah minda dari kecenderungan menganalisis sesuatu dalam urutan SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan) menjadi TOWS, mulai dari tantangan, peluang, kelemahan, untuk mengetahui dan sadar terhadap kekuatan yang dimiliki.

Dengan analisis TOWS Betawi sebagai peradaban melakukan lompatan realistis dengan melakukan reorientasi untuk mendapatkan diferensiasi atas nilai peradaban yang dimilikinya. Mulai dari sikap berani - bijak dalam konteks optimisme, egaliteriani dalam konteks kosmopolitan dan sikap demokratis, tangkas - dalam konteks kreatif dan inovatif,  adaptif dalam konteks kemampuan berasosiasi dan berasimilasi, waro' dalam konteks kebersahajaan dalam konteks akhlaq kariimah - paradoks dari ngagul - yang paling tinggi adalah yang paling rendah hatinya dan yang paling rendah adalah paling tinggi hatinya, islami - dalam konteks kukuh teguh dalam akidah - taat patuh dalam konteks syariah - berorientasi keswejahteraan berkeadilan dalam konteks muamalah, dan luhur dalam konteks pekerti atau moralitas.

Seluruh dimensi itu, menempatkan Betawi sebagai peradaban merupakan padupadan harmonis - karakter yang terbebas dari penghambaan atau kebergantungan, alias mandiri. Karenanya, terkait dengan proses perubahan kualitas hidup, titikberatnya adalah penguatan aksesibilitas yang dibarengi dengan perubahan besar kualitas insani-nya. Tak lagi hanya sebagai sumberdaya manusia, melainkan modal insan. (Baca juga : LKB Respon Aktif Visi Jakarta Kota Berbudaya dan Berkeadaban)

Bila pun hendak dipandang dari perpektif ras dan etnis, di dalam peradaban Betawi dihidupkan oleh nilai islam yang diperkaya oleh nilai bangsa aria dan tiongkok. Pada peradaban Betawi, tesis Samel Huntington tentang Clash of Civilisations and Rebuilding, mesti dipahami tak hanya sebagai pemulihan konsep budaya. Melainkan jauh daripada itu.

HK mengusik kesadaran kebetawian secara dimensional. Mengingatkan kita pada pandangan Adda Bozeman, yang menyiratkan tentang "nilai-nilai, kepercayaan, kelembagaan masyarakat dan cara berpikir," termasuk pemahaman terhadap realitas, bahwa generasi-generasi berikutnya dalam masyarakat Betawi (sebutlah itu generasi millenials) akan mengutamakan berbagai kepentingan (di jamannya)."

Di sisi lain, pandangan Huntington yang menempatkan agama sebagai elemen paling penting dalam suatu peradaban, dan menegaskan egaliterianisma - kosmopolit yang tak mempengaruhi penampilan fisik atau ras. Karena peradaban jauh lebih utama, dari sekadar bersoal tentang ras.

HK memberikan aksentuasi pada pandangan Huntington dan dimensi keislaman dalam peradaban Betawi yang memungkinkannya menyerap ornamen-ornamen budaya yang mewujud pada baju sadariah, kebaya encim, dan realitas lako sosial budaya dan ekonomi yang mudah berinteraksi dengan nilai budaya Barat.

Huntington berpandangan, peradaban adalah level tertinggi dari identitas budaya. Peradaban memungkinkan terjadinya proses evolusi, adaptasi, dan asosiasi manusia yang paling tahan lama. Peradaban Betawi, memungkinkan berkembangnya Jakarta seperti sekarang ini. Secara tersirat HK sebenarnya menegaskan, Ibukota Jakarta tak mencerminkan jantung - hati Indonesia, bila kaum Betawi berkutat hanya dengan identitas budaya dan tradisinya.

Adalah realitas yang dapat dilihat dengan kasad mata, kalau kemudian Ondel-Ondel, Gigi Balang, Yapong, Ronggeng Nyai, dan beragam produk budaya lain (dalam bentuk kesenian), termasuk Silat Tradisi menunjukkan Betawi sebagai peradaban yang terus berproses. Inklusifitas kaum Betawi juga cermin peradaban maju, justru ketika kini, nilai-nilai global begitu kuat mengusung ekuitas dan ekualitas, yang bagi masyarakat Betawi sudah mengalir dalam karakternya.

HK seolah menegaskan pernyataan Ketua LKB, Beky Murdani dalam sambutannya yang mengisyaratkan beberapa ciri kebetawian: serius oke, humor pun bisa, hal-hal yang rumit bagi banyak orang, bisa sangat sederhana penyelesaiannya. Termasuk berbagai idiom yang berkembang sejak lama, seperti: "Lu jual, guye borong," "Lu kaya gue gak minta, lu pinter gue gak nanya," dan berbagai pola tutur dalam sastra lisan yang memberi makna atas kata, atau justru menjungkirkan esensi kata sesuai momen dan suasana, seperti ekspresi dalam pantun.

Dari sudut pandang ini, tantangan masyarakat Betawi adalah melakukan lompatan dari gagasan marketing yang dianggap penting oleh kalangan bisnis generasi lalu, menjadi penguatan nilai kreatifitas dan inovasi di sebalik produk dan jasa yang menjadi rumusan bakunya. Termasuk rumusan tentang supply dan demand. Tantangan itu, antara lain arus gagasan Philip Kotler tentang glokalisasi, yang oleh HK dikupas luas dalam Marketing 4.0 yang sesungguhnya memberi isyarat tentang marketing paradox.

Betawi sebagai peradaban, bertumpu pada esensi nilai spirit yang dimilikinya, yang berdimensi global dalam wawasan, berdimensi Indonesia dalam konteks bangsa. Di situ, olah kreativitas dan inovasi mendasari penelitiaan obyektif dan pengembangan dinamis budaya, termasuk tradisi di dalamnya.

Pilihan-pilihannya menjadi menarik -- dan ini tak terwadahi dalam platform Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan yang dibahas dalam Kongres Kebudayaan 2018 -- karena secara empiris, akan ada produk-produk budaya (tradisi dan kesenian) yang diabadikan dalam dokumentasi literatif -- misalnya dalam microfilm atau produk sains dan teknologi terbaru kelak.

Akan halnya produk budaya yang harus dikembangkan, perkembangannya mesti dinamis, pun mesti sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi. Di sini, tuntutan kreativitas dan inovasi menjadi penting, karena perkembangan multimedia menjadi peluang besar untuk melakukan alihmedia, multiplatform merupakan peluang untuk pengembangan platform yang bersandingan dengan pakem, dan multichannel memberikan peluang bagi pelaku seni dan budaya memilih saluran-saluran eksibisi, presentasi, dan ekspresi budaya sebagai sub sistem peradaban itu.

LKB sudah memberikan ruang-ruang manifesto dalam kelembagaannya, meliputi: pelestarian dan pemberdayaan, penelitian dan pengembangan, pergelaran dan reorientasi kreatif, termasuk strategi komunikasi, koordinasi (dalam konteks marketing bersifat integratif dan agresif) melalui hubungan antar lembaga. Tak terkecuali dalam hal pemberdayaan Abang dan None.

Presentasi HK juga membuka mata untuk melihat relasi korelasi dimensi sosial Betawi sebagai peradaban dalam konteks ekonomi, termasuk industri, mulai dari industri manufaktur, industri kreatif, bahkan industri rekebentuk dalam dunia properti.

Presentasi khas HK juga memandu LKB untuk melakukan reorientasi dalam hubungan antarlembaga, baik dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun pihak lain, khasnya kalangan industri. Tak terkecuali hal-hal yang bernilai ekonomi, dan berdampak langsung pada kesejahteraan pelaku dan pekerja seni budaya di satu sisi. Tinggal lagi, para budayawan yang mengemban fungsi pemikiran dan gagasan, menjawab tantangan HK untuk merumuskan road map transformasi budaya sesuai dengan nilai peradaban Betawi itu sendiri.

Tantangannya adalah kemauan berubah dan kemampuan memilih jalan perubahan. Termasuk menentukan pola kerja dengan preposisi yang sesuai dengan perkembangan dinamis masyarakat dan zamannya. Raker LKB baru ayunan langkah pertama, perlu segera melakukan langkah berikutnya untuk menentukan wake up call. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 212
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
06 Mar 19, 12:36 WIB | Dilihat : 237
Sungai Bersih dan Masjid Jamek Pesona Khas Kuala Lumpur
02 Mar 19, 00:45 WIB | Dilihat : 289
Beranda Jakarta dan Rekacita Masjid Terapung Ancol
27 Feb 19, 13:14 WIB | Dilihat : 281
Jangan Menutup Matahari dengan Jemari
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
25 Mar 19, 12:00 WIB | Dilihat : 82
Lompatan Kutu Anjing
25 Mar 19, 11:49 WIB | Dilihat : 88
Jangan Untung Jadi Buntung
12 Mar 19, 00:36 WIB | Dilihat : 395
Pesawat Boeing 737 Max Dikandangkan Sementara
22 Jan 19, 07:19 WIB | Dilihat : 434
Siasat Wohlstandspolitik
Selanjutnya