Dimensi Kaum Betawi

| dilihat 546

Sém Haésy

Ada sesuatu yang khas pada momen Lebaran Betawi yang digelar Badan Musyawarah (Bamus) Betawi di Monas (19-21/7/19) lalu. Bagi saya, lepas dari bagaimanapun kualitas peristiwanya, momen itu penting. Yakni pesan tersirat, pengakuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bahwa tempat kaum Betawi adalah di pusat kota, di landskap utama Jakarta.

Pesan itu penting untuk kaum Betawi kini dan ke masa depan, bahwa tak holeh ada lagi marginalisasi, termasuk peminggiran dengan cara apapun (ekonomi, sosial, politik, dan budaya), sekaligus menegaskan ihwal kosmopolitanitas dan egaliterianisma kaum Betawi.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan -- yang gud bener -- itu boleh jadi merupakan pengemban amanah jabatan Gubernur pertama di DKI Jakarta yang paham secara mendalam konstelasi budaya -- dalam makna luas -- kaum Betawi di tengah proses perubahan. Justru ketika semangat 'peminggiran' atas kaum Betawi nyaris tak bisa dibendung.

Anies mengatakan pemilihan Monas sebagai lokasi peristiwa Lebaran Betawi, karena lapangan ini memiliki makna sejarah tersendiri. Monas, yang dulu merupakan lapangan IKADA, merupakan tempat rakyat - kaum Betawi berkumpul menyatakan kepada dunia, bahwa kemerdekaan Republik Indonesia merupakan kehendak seluruh rakyat. Bukan hanya kehendak politik petinggi atau kelompok warga bangsa Indonesia belaka. 

Rakyat - kaum Betawi, di lapangan itu, menegaskan, bahwa kemerdekaan Republik Indonesia - 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan di Jalan Pegangsaan Timur 56, bukan keputusan sepihak. Kehadiran rakyat - kaum Betawi saat itu untuk mengirimkan pesan ihwal nation dignity, sekaligus menegaskan daya juang rakyat, bukan hanya buih.

Anies sangat cerdas dan tepat membaca sekaligus memahami sejarah, dan menjadikan sejarah sebagai latar pijak, sekaligus footpath melangkah ke masa depan. Tepat, ketika dia mengatakan, rakyat - kaum Betawi merupakan simpul penyatu persatuan.

"Kota ini telah menjadi kota di mana persatuan Indonesia dirajut, di kota ini masyarkatnya menyambut kedatangan suku bangsa nusantara dengan keramahan kehangatan sehingga terasa hidup satu indonesia, di mna peran masyarat Betawi menjadi fasilitator tumbuhnya persatuan Indonesia," ungkap Anies. (Baca: Refleksi dari Arena Lebaran Betawi)

Semua itu bisa terjadi, karena rakyat - kaum Betawi pada dasarnya lebih merupakan dimensi kebangsaan dan nilai keberadaban, daripada sekadar etnis. Karenanya, secara berulang-ulang sejak era penjajahan Portugis sampai Jepang, rakyat - kaum Betawi menjadi sasaran penetrasi kekuasaan dan tak pernah putus dirundung aksi peminggiran.

Kendati demikian, rakyat - kaum Betawi tak pernah lelah menunjukkan eksistensi sebagai bangsa berdaulat, seperti ternukil dalam catatan Antonio Pigafeta dari ekspedisi Magellan. Pigafetta menggambarkan perlawanan rakyat pituin Kalapa yang dengan senjata sederhana -- golok -- dan daya di luar empirisma, berhasil mengusir (bahkan menewaskan Magellan) yang dilengkapi dengan senjata api.

Betawi sebagai istilah dipergunakan Sultan Riau Lingga Abdul Rahman Muazzam Syah ll ketika menyurati Gubernur Jendral Belanda di Batavia -- yang dibawa utusannya, Raja Ali Haji -- pencipta Gurindam 12. Surat itu berisi penolakan Sultan atas dominansi Belanda yang berujung perang dan pemakzulan atasnya, dan membuat Raja Ali Haji menikah dan menetap di Batavia.  Istilah Betawi, kemudian dipergunakan oleh putera mahkota Tengku Umar yang lebih dikenal dengan Tengku Besar.

Dimensi Betawi jauh melampaui pembatasan makna etnisitas. Pada Kongres Kebudayaan Betawi (2011) saya menyebutnya sebagai nilai, yang ketika dilekatkan dengan etnisitas, menjadi proses mem-bangsa (to be nation). Terutama karena tersambung dengan akar generatif polinasi: Arab, Persia, dan Kildan sebagaimana umumnya bangsa Melayu.

Merujuk pada pandangan ilmuwan Persia Abu Mashar al Bakhi dalam Madrasat al Bakhi, rakyat - kaum Betawi terbentuk oleh peradaban Kangdez,  yang merupakan sentrum peradaban di timur jauh pada yang menjadi lintasan utama pergerakan matahari (khatulistiwa). Peradaban yang tumbuh (di luar China, sebelah Timur India, negeri dengan dua musim, dengan hutan hujan tropis dan rawa-rawa.

Betawi adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat bangsa yang dikelompokkan oleh Santos, Oppenheimer,  dan Palmer sebagai atlantisarian - yang berasimilasi dengan Champa, seperti pernah disinggung Herbert Feith (Australia), Graham Hancock (Belanda), Robert Schoch (Boston), dan Rochard Hansen (Idaho State) dalam seminar Gotrasawala memperingati Wangsakerta (2013).

Meminjam pandangan Piet Lombaerde, Ann Pisman, dan Georges Allaert ihwal karakteristik dan gaya hidup masyarakat sub urban dan urban Betawi adalah simpul pemersatu, telangkai peradaban antarabangsa.

Secara budaya tercermin dari pilihan dan perolehan sumber kehidupan, dan domain perilaku terkait dengan permukiman, pekerjaan, pola migrasi, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya terkait dengan motivasi, preferensi, nilai dan struktur sosio-budayanya dengan beragam variabel, seperti diteorikan Heijs, Crompton, dan Kipnis.

Pada dimensi kekinian tertampak dalam performa dan karakteristik aneka organisasi kemasyarakatan kaum Betawi yang beragam, namun terintegrasi dalam ekspresi kesenian dan nilai budaya.

Anies Baswedan - sesuai dengan kelas keilmuan dan ketangkasan kepemimpinannya, menangkap dimensi Betawi itu, sehingga memungkinkan Jakarta menjadi kota modern terbuka, sekaligus mampu mempertemukan arus budaya -- terutama sosio habitus -- sub urban dan urban, sekaligus mengubah sosio habitus masyarakat pendatang yang masih menyandang rural value menjadi masyarakat sub urban. Hal itu tertampak pada kebijakannya membangun jembatan terpadu multi fungsi di Tanah Abang, penataan transportasi via JakLingko, dan pemataan spot-spot budaya yang memberi ruang lebih nyaman bagi pejalan kaki.

Bila perencanaan pembangunan kota yang bertumpu pada pembentukan lingkungan sehat, lingkungan cerdas, dan lingkungan mampu secara ekonomi -- yang bermuara pada pencapaian indeks pembangunan manusia dan pembangunan berkelanjutan -- menyerap pandangan Anies, dimensi budaya Betawi akan memperkuat pencapain visi kemajuan, kebahagiaan, dan keadilan.

Hal itu akan menjadi kekuatan riil yang sesungguhnya, hatta sejuta jembalang, gendruwo, memedi, bersekutu mencerca dan menistanya. Karena kekuatan yang akan terbentuk bukanlah kekuatan yang hanya bertumpu pada kelompok-kelompok invisiblehand pemuja zombie.

Secara kualitatif ekspresi budaya Betawi sangat terbuka dan mudah berinteraksi, berasimilasi, dan bahkan berakulturasi dengan beragam budaya dan sub sistem budaya, baik dari berbagai sukubangsa di Indonesia maupun dari mancanegara.

Tinggal lagi Bamus Betawi dan Lembaga Kebudayaan Betawi secara khas dan proporsional - tidak tumpang tindih menggarap program yang khas di masing-masing bidang garapnya. Bamus Betawi, misalnya, dapat memainkan peran utama dalam hal menggerakkan 'rethinking Betawi.' Mulai dari kajian-kajian dan elaborasi intensif  merumuskan transformasi sosial, berbasis gaya hidup perkotaan dan pinggiran kota kaum Betawi dari perspektif kualitatif.

Pun, tentang "etui-man" yang digambarkan Walter Benjamin (1892-1940) sebagai kelompok masyarakat yang meninggalkan kehidupan kota yang membingungkan dan mengancam, kemudian merasa aman dan nyaman tinggal di pinggiran kota.

Pada momen Lebaran Betawi -- khasnya di luar arena resmi -- saya merasakan interaksi hangat dengan kaum urban, seperti yang diistilahkan Spectorsky, yang sering juga disebut sebagai 'burung-burung metropolitan,' kaum Betawi yang tinggal di pinggiran Jakarta dan memanfaatkan momen Lebaran Betawi sebagai ajang piknik.

Sayang peliput peristiwa Lebaran Betawi, itu hanya sebatas 'pasang mata - pasang telinga,' tak mengharmonisasi nalar, naluri, rasa, dan indria. Akibatnya, pemberitaan yang mengemuka hanya formalitas upacara, kutipan pidato, dan gambaran pengunjung berebut makanan gratis.

Cara kerja kecepatan memberitakan dan bukan ketepatan mengabarkan informasi, luput menyerap lebih dalam ihwal dimensi kaum Betawi, termasuk realitas Betawi sebagai representasi kaum urban dan sub urban dalam proses perubahan Jakarta yang kian bergerak cepat sebagai kota modern, setara dengan kota lain di dunia.

Dalam konteks inilah, pernyataan Anies, bahwa rakyat - kaum Betawi merupakan perekat persatuan, menjadi penting dan relevan. Karenanya komitmen 1Betawi, sebagai ekspresi Betawi bersatu menjadi penting. Dengan cara itu, akan terhimpun kembali nilai yang pernah diwariskan oleh para elite Betawi, seperti KH Nur Ali, Haji Darip, Guru Mughni, Husni Thamrin, KH Abdullah Syafi'ie, KH Thohir Rohili, KH Syafi'ie Ahdzami, dan lainnya yang sangat banyak.

Menghadirkan kearifan dan kecerdasan budaya dari para orang tua itu menjadi sangat penting. Dengan modal itu, kemudian para petinggi Betawi jangan lagi hanya 'bekutet' bersoaljawab, bahkan 'sentak sengor' - 'bekia-kia' (debat kusir) hanya di lingkungan dalam Betawi. Melainkan menghadirkan dimensi Betawi ke jagat raya kebangsaan yang lebih luas. Dengan cendekia, tangkas, dan sungguh egaliter.

Jangan sampai, seperti celoteh H. Mahbub Djunaedi, "gua ciut kalo cuman ngurusin Betawi." |

Editor : Web Administrator | Sumber : foto-foto instagram anies baswedan
 
Polhukam
13 Sep 19, 10:20 WIB | Dilihat : 220
Menghantar Bapak Demokrasi, Mengenang SU MPR 1999
10 Sep 19, 10:36 WIB | Dilihat : 308
Transformasi Jakarta Tidak Terbendung
07 Sep 19, 21:04 WIB | Dilihat : 242
Jakarta Jantung Ekonomi dan Budaya
Selanjutnya
Seni & Hiburan
06 Sep 19, 22:46 WIB | Dilihat : 207
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 757
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 724
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
12 Agt 19, 22:43 WIB | Dilihat : 443
Pesona Lipet Gandes dan Topeng Jantuk
Selanjutnya