Dihancurkan, Apa Salah Patung?

| dilihat 2721

AKARPADINEWS.COM | PATUNG-patung yang diciptakan, tidak sekadar untuk menghiasi ruang-ruang kota. Patung, dengan berbagai rupa juga menjadi penanda peradaban di jamannya. Penggarapannya pun lewat proses panjang hingga menjadi karya seni yang menebar nilai. Sebagai produk seni budaya yang mempercantik kota, seharusnya patung-patung itu dirawat dan dijaga.

Sayang, beberapa pihak menganggap patung sebatas ikon simbolik yang menyalahi nilai-nilai religiusitas. Pandangan sempit itu yang memicu kebencian terhadap karya seni itu. Patung-patung yang tidak berdosa itu pun dihancurkan. Kamis, 11 Februari lalu, sejumlah orang merusak dan membakar Patung Arjuna di ujung Situ Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat.

Patung setinggi tujuh meter yang menggambarkan tokoh pewayangan Arjuna yang berdiri gagah sedang membetot anak panah dan mengarahkannya ke angkasa itu, dibakar pada saat subuh. Miris, yang tersisa dari patung itu hanya bagian paha hingga telapak kaki.

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi pun berang dengan ulah oknum masyarakat yang bertindak barbar terhadap patung yang dibuat dari fiber dan beton, yang telah menghias situs Wanayasa sejak tujuh tahun silam.

Ironisnya, aksi perusakan patung tokoh pewayangan itu itu bukan pertama kali terjadi di Purwakarta. 18 September 2011 silam, patung Bima, Semar, Gatot Kaca dan beberapa patung lain, dihancurkan sekelompok massa yang mengatasnamakan Masyarakat Peduli Purwakarta (MPP).

Massa beralibi, Purwakarta adalah Kota Santri yang tak pantas dijejali patung-patung yang dianggap sebagai simbol kerberhalaan. Padahal, dalam realitasnya, Patung Arjuna tersebut merupakan salah satu ikon yang mewakili produk seni budaya Sunda, khususnya Wayang Golek.

"Wayang Golek itu kan produk kebudayaan. Bahkan, saat Walisongo memperkenalkan Islam di tanah Jawa, Wayang Golek dijadikan sebagai media dakwahnya," ujar Bupati Purwakarta, seraya mengecam perbuatan pelaku yang dianggap tidak berbudaya dan mendesak kepolisian menangkap para pelakunya. Polisi perlu mengusutnya. Karenanya, insiden ini bukan kali pertama.

Fenomena serupa juga pernah terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Februari 2015 lalu, Monumen Jayandaru di Alun-alun Sidoarjo digugat sejumlah organisasi Islam sehingga terpaksa dibongkar. Alasannnya, sembilan patung manusia yang menggambarkan profesi warga Sidoarjo sebagai petani, pedagang, dan nelayan itu dianggap sebagai berhala.

Aksi itu menuai keprihatinan kalangan seniman di Sidoarjo. Mereka menilai, pembongkaran tersebut membelenggu ekspresi seniman dalam berkarya. Laku barbar para ormas Islam tersebut dianggap terlalu sempit dalam memaknai karya seni dalam konteks agama.

Tahun 2010, massa juga merobohkan Patung Tiga Mojang setinggi 19 meter yang berdiri di Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat. Patung berwujud tiga perempuan yang dibangun dengan menghabiskan biaya Rp2,5 miliar dan terbuat dari bahan perunggu itu menjadi ikon perumahan elit karya seniman Bali, Nyoman Nuarta. Namun, patung itu diprotes kalangan ulama dan masyarakat setempat lantaran dianggap mengumbar aurat dan pendiriannya juga dituding tidak berizin.

Patung Kaki Akar berwujud setengah manusia yang berada di titik nol kilometer kota Yogyakarta juga bernasib serupa. Patung yang bernama Patung Tropic Effect yang diciptakan sembilan seniman yang bergabung dalam komunitas seni Khatulistiwa Art Team itu, dirobohkan Pemerintah Kota Yogyakarta tahun 2014 karena menimbulkan prasangka pornoaksi yang memicu kemarahan kelompok massa tertentu.

Padahal, patung yang ditampilkan di Biennale Yogyakarta tersebut ingin menyampaikan makna tentang kecintaan masyarakat pada lingkungan. Makna itu terlihat di patung yang mengambarkan visualisasi akar-akar meranggas sebagai refleksi keserakahan manusia terhadap lingkungan, khususnya di Yogyakarta.

Lalu ada juga aksi perobohan patung karena latar belakang politis. Misalnya, perobohan patung mantan Gubernur Lampung, Zainal Abidin Pagaralam yang berdiri megah di Kabupaten Lampung Selatan. Warga Lampung Selatan marah karena menganggap patung kakek Bupati Lampung Selatan kala itu, Rycko Menoza itu, menghambur-hamburkan uang sebanyak Rp1,3 miliar.

Pembangunan patung itu juga sejalan dengan sejarah leluhur warga di Lampung Selatan dan bernuansa nepotisme. Zainal Abidin Pagaralam, meski merupakan penggagas terbentuknya Provinsi Lampung, dianggap warga, bukan merupakan keturunan asli dari Lampung Selatan. 

Aksi penghancuran patung-patung lantaran dianggap sebagai simbol kemusyrikan, rada jauh dari rasionalitas. Pertanyaannya sederhana, apakah dengan adanya patung-patung itu, umat Islam di Purwakarta menjadi penyembah berhala? Apakah pembangunan patung-patung itu memang ditujukan untuk membuat warga melakoni perbuatan yang menjurus syirik? Apa Toh, jika membaca cerita-cerita pewayangan, ada juga pesan-pesan moral dan bernilai yang diwarisi para leluhur. Lalu, apa salahnya patung-patung itu?

Sesuatu yang bernilai jika diaktualisasikan, maka akan menciptakan tertib sosial. Kalau alasannya syirik, bagaimana dengan karya-karya seni lainnya yang banyak menyerupai mahluk hidup seperti foto, gambar, dan sebagainya? Kenapa tidak juga dihancurkan jika diyakini dapat mengurangi derajat keimanan warga terhadap Allah SWT?

Kekhawatiran jika patung merupakan simbol keberhalaan yang melatarbelakangi aksi penghancuran itu, tidak berdasarkan fakta, namun lebih pada prasangka. Pembakaran, penghancuran hingga pemindahan patung-patung di berbagai daerah di Indonesia, karena belengu sentimen simbolik yang dianggap tidak sesuai dengan religiusitas dan bersifat politis. Karena faktanya, patung-patung itu tidak dijadikan sesembahan, melainkan produk seni yang menghiasi kota.

Fenomena penghancuran patung atau karya simbol seni dan budaya lainnya, dalam khazanah ilmu sosial disebut ikonoklasme yakni tindakan memerangi hingga menghancurkan ikon-ikon dalam gambar, patung, atau simbol lain, baik yang bermakna religius mau pun politis dan motif lainnya. Tindakan itu juga menunjukan intoleransi dan ketidakdewasaan masyarakat dalam menghargai seni, budaya, sejarah, dan minim sensitivitas terkait realitas kemajemukan.

Tindakan barbar yang dipicu sentimen berlebihan pada simbol-simbol tertentu, tanpa disadari akan terus berulang dan seolah menjadi tindakan lumrah. Padahal, konsekuensinya tidak sepele, karena menimbulkan keresahan yang memicu konflik di masyarakat.

Sebenarnya, patung merupakan karya seni yang dapat mempercantik ruang kota. Patung juga menjadi simbol yang menebar pesan-pesan konstruktif dengan latar belakang sejarah yang melekatnya. Namun, ada baiknya, pembangunan patung atau monumen melibatkan partisipasi dan mengakomodasi nilai nilai dan sejarah masyarakat.

Sebab, sebaik apapun rencana dan tujuan pembangunan patung, jika tidak disertai komunikasi dan persuasi ke masyarakat, akan memunculkan kecurigaan. Persepsi itu kemudian memunculkan tindakan anarkis, melanggengkan intoleransi, dan tidak menghargai budaya yang diwarisi para leluhur.  

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Polhukam
01 Jul 20, 19:43 WIB | Dilihat : 84
Memahami Ideologi
15 Jun 20, 23:20 WIB | Dilihat : 277
Menebar Virus Akalbudi Kemuliaan Melayani Rakyat
07 Jun 20, 23:14 WIB | Dilihat : 852
Jakarta Bergerak Menuju Peradaban Baru
06 Jun 20, 15:47 WIB | Dilihat : 676
Trump Sebabkan AS sebagai Adidaya Disfungsional
Selanjutnya
Energi & Tambang