Di Tengah Pusaran Zaman Fitan

| dilihat 202

Bang Sem

KITA sedang memasuki zaman fitan. Zaman ketika gosip (ghibah), rumors (buhtan), dan fitnah menduduki tahta dan nyaris menguasai seluruh aspek kehidupan manusia sehari-hari.

Inilah zaman, ketika orang yang benar disalahkan yang salah dibenarkan. Zaman, ketika akalbudi diganti dengan akal-akalan. Zaman, ketika ulama, cendekian, dan orang-orang bijak dibatasi dan para penista, pengolok-olok, dan perabun (pemanipulasi kebenaran) dibiarkan, bahkan diberi panggung. Zaman sungsang.

Zaman ketika kemuliaan direndahkan dan kejumudan dibiarkan, bahkan merdeka memasuki kehidupan pribadi dan sosial lewat kecanggihan teknologi informasi.

Di zaman ini, matahati terbutakan. Manusia nyaris tak lagi mampu membedakan mana kebenaran dan pembenaran. Inikah zaman turunnya Ya’juj dan Ma’juj, dua makhluk durjana, seperti diisyaratkan Allah melalui Al Qur’an (Surah Al Anbiyaa 96)?

Saya meyakini hal itu. Boleh jadi, kekuatan Ya’juj dan Ma’juj kini adalah dua kekuatan besar bangsa-bangsa yang sedang berusaha habis-habisan menguasai Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia, yang sejak dua dasawarsa terakhir disebut sebagai masa depan muslim dunia, selain Turki.

Isyarat dalam Al Qur’an, Surah Anbiyaa (96), “Hingga apabila dibukakan (tembok – penghalang) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi". Tembok penghalang yang dibukakan, saya pahami sebagai open sky policy.

Melalui satelit dan perkembangan teknologi informasi yang menyertai Industri 4.0 dengan daya frekuensi yang kian luas dibuka termasuk perkembangan mutakhir G5 dalam era teknologi informasi, penghalang itu sudah terbuka.

Sejalan dengan itulah Indonesia dan Malaysia dibelit oleh pusaran perubahan dahsyat, globalisasi sekaligus glokalisasi. Saya sependapat dengan pandangan Sheikh Hamzah Yusuf, bahwa esensi ‘hadabin’ dalam firman Allah tersebut (Hatta idza futihat ya'juuju wa ma’juuju wa hum min kulli hadabin yansiluuna) dapat kita maknai sebagai pusaran gelombang yang menggerakkan revolusi semesta yang tak terkendali.

Mulai dari pornografi, kekerasan, sampai proxy war dan beragam invasi yang tak tersadari. Bersamaan dengan itu, kita kedodoran dalam empat hal utama yang menjadi kunci kehidupan insani yang tesimbolisasi pada ragawi kita (Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan, “ibda’ bi nafsik” – belajar pada dirimu – baik konotatif maupun denotatif).

Empat hal utama (core) pada diri manusia itu mengisyaratkan tentang : sains dan teknologi – yang harus direspon cepat oleh kecerdasan intelektual; kecerdasan emosional – yang berkaitan dengan religiusitas dan budaya; kemudian kemampuan ekonomi; dan, kesehatan jiwa raga yang dirongrong oleh penyalahgunaan narkoba – termasuk oleh keragaman virus yang menebar begitu banyak penyakit bagi manusia.

Kesemua itu berhubungan dengan human development, dengan beragam terminologi dan nomenklatur baku yang menjebak (human resources – sumberdaya manusia – yang bersifat statis), yang harus diubah melalui proses transformasi (perubahan dramatik) cepat. Antara lain mengubah terminologi – nomenklatur sumberdaya manusia menjadi human invesment dan atau human capital.

Dalam konteks itu, seluruh program pendidikan serta pengembangan sains dan teknologi, mesti berdampak langsung pada penguasaan sains dan teknologi – berbasis kecerdasan budaya, culture quotation. Lalu, fokus pada penguatan dan pengembangan kemampuan ekonomi rakyat secara keseluruhan. Fokusnya adalah baitul maal wat tamwil – berupa sistem industri keuangan yang menguatkan akses rakyat kepada modal (antara lain melalui inklusi keuangan dan intermediasi perbankan), dan baitul mal wal ihsan dalam bentuk social security.

Dengan demikian, maka pembangunan manusia menjadi utama, yang diperkuat oleh bidang dan sektor lainnya (politik, sosial, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan).

Penguasaan teknologi, penguatan keimanan dan ketaqwaan dan kebudayaan berorientasi peradaban unggul, pembangunan ekonomi berdampak kesejahteraan berkeadilan, dan kesehatan berbasis lingkungan, merupakan benteng kokoh untuk melindungi masyarakat – negara, bangsa dari invasi Ya’juj dan Ma’juj.

Caranya? Memuliakan ulama, pemuka agama dan cendekiawan dan menempatkannya pada posisi yang semestinya – derajat yang tinggi, muru’ah sebagai pemandu sekaligus enlighter di tengah kecenderungan besar negara-negara besar untuk memadamkan ghirah (berbasis kompetensi, profesionalisme, dan keberanian berkompetisi di tengah era global) dan gairah untuk maju (kreativitas dan inovasi), serta perilaku beradab (akhlak mulia – akhlaqul kariimah).

Cara cepat yang bisa dilakukan adalah memanifestasikan Pancasila sebagai pondasi (bukan pilar) utama sekaligus lima prinsip moral bangsa yang akan berujung pada nation dignity – marwah kebangsaan.

Dengan cara itu kita berdiri tegak menghadapi pusaran zaman fitan yang membanjiri kita dengan informasi wadul (hoax) yang melemahkan, karena setiap ghibah (rumors), buhtan (intrik), dan fitnah selalu cenderung menggerakkan namimah, pecah belah. Kebhinnekaan adalah realitas dan tak perlu dipersoalkan, karena setiap mereka yang merasa ber-bhinneka, harus mengacu pada tunggal ika, persatuan. Wahidah.

Secara operasional dimulai dengan penyelenggaraan negara dan pemerintahan berdasarkan prinsip dasar good governance: kewajaran, transparasi (kejelasan), tanggungjawab, kebertanggungjawaban (akuntabel), dan independensi – kemerdekaan (kebebasan yang bukan keliaran). Landasannya: penegakan hukum secara adil dan benar, proporsional – fungsional – profesional. Bukan sekadar ekuitas (kesetaraan). Dimulai dengan pemenuhan janji kepada rakyat, sekecil apapun janji itu.

Di tengah zaman fitan, jangan pernah lelah merawat negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila sebagai basis norma, 5 moral principles : religius, manusiawi, bersatu, kerakyatan - demokratis (berbasis musyawarah dan mufakat), dan keadilan.

Dalam konteks itu kita perlu pemimpin yang berpihak pada kebenaran dan mendahulukan cara, bukan pemimpin yang gemar dengan pembenaran dan senang membuat alasan. Dengan alasan ini, kita perlu pemimpin yang sesuai dengan tantangan lima tahun ke depan. Ini bukan soal ‘kebelet’ berkuasa atau ambisius, ini adalah soal kewajiban dan tanggung jawab.

Allah tidak akan menghancurkan (ghayyar) sesuai kaum, kalau kaum itu tidak menghancurkan (yughayyiru) dirinya sendiri. Perubahan transformatif dan kongkret harus diwujudkan, bukan didiskusikan atau diperdebatkan. |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : foto berbagai sumber
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1744
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 692
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 546
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 70
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2833
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 847
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
Selanjutnya