Bahasamu Menerkammu

| dilihat 516

Bang Sem

BAHASA menunjukkan bangsa. Pernyataan yang sering menjadi pameo ini mengisyaratkan, siapa saja, apalagi mereka yang mengemban amanah sebagai pemimpin kudu mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Utamanya bahasa nasional.

Di dalam bahasa tak hanya ada huruf, kata, dan kalimat. Tetapi juga ada tata bahasa yang memungkinkan kata dan kalimat mempunyai makna. Lebih dari itu, juga : logika bahasa dan rasa bahasa.

Logika dan rasa bahasa, memandu setiap penggunanya, mempertimbangkan dan menggunakan seluruh dimensi nalar, naluri, dan rasa dalam berkomunikasi. Dilengkapi dengan dimensi indria, dalam berkomunikasi dan berbahasa mengalir juga impresi dan ekspresi, yang sekaligus mencerminkan latar budaya (termasuk adat istiadat, nilai budaya seperti akhlak, dan watak yang terbentuk oleh lingkungan sosial, di dalamnya).

Dalam komunikasi verbal yang disampaikan secara lisan, terikut serta mimik, nada, irama (termasuk aksentuasi), dan gestur. Itulah yang kita sebut gaya bahasa. Termasuk di dalamnya bagaimana menggunakan metafora dan plastis bahasa.

Dengan gaya bahasa, serta pilihan kata dan kalimat (aktif maupun pasif), esensi dan format pesan dalam komunikasi terasakan konteksnya, baik konotasi maupun denotasinya. Gaya bahasa menempatkan kata dan kalimat tidak hanya sebagai text.

Konotasi dan denotasi dapat dipahami, ketika kata dan kalimat menjadi medium ekspresi dan impresi. Inilah kelak yang akan memengaruhi kualitas komunikasi, dan dampak (personal dan sosial, ekonomi dan politik) yang ditimbulkan. Itulah sebabnya dalam berbahasa berlaku etika, seperti tercermin dalam pepatah: “mulutmu harimaumu.”

Pepatah ini menegaskan cara menggunakan bahasa (berbahasa) dalam berkomunikasi. Cara berbahasa yang buruk akan berdampak buruk bagi penggunanya.

Perkembangan teknologi dan informasi, menghadapkan kita pada beragamnya medium komunikasi. Telepon genggam yang pada mulanya diperuntukan untuk berkomunikasi lisan, berkembang sangat cepat menjadi medium komunikasi tekstual. Diikuti oleh perkembangan platform dan format yang lebih beragam.

Beragam fitur komunikasi tekstual memungkinkan setiap penggunanya berkomunikasi dan berinteraksi dengan beragam medium. Maka berkembanglah media sosial dengan aneka jenis dan format.

Berjuta-juta pengguna telepon genggam, kapan saja bisa melakukan migrasi dan menggunakan alih media dalam berkomunikasi. Dalam proses migrasi itu, terikut-serta migrasi budaya yang bertitik-berat pada gaya hidup.

Sejumlah negara secara sadar menyikapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, dengan menegaskan pentingnya kemampuan berbahasa. Baik dalam konteks bahasa ibu maupun bahasa nasionalnya.

Berbagai lembaga bahasa ditempatkan pada posisi yang penting dalam penyelenggaraan negara. Berbagai kursus dan pelatihan kemampuan berbahasa juga diselenggarakan. Para penyelenggara negara, juga ditempa melalui beragam sistem dan metode pendidikan, untuk mendalami bahasa nasionalnya sendiri.

Keterampilan dan kefasihan menggunakan bahasa nasional, di berbagai negara, menjadi faktor penting dalam peningkatan dan pengembangan kualitas profesionalitas penyelenggara negara. Dan, dilakukan pengaturan yang khas tentang siapa saja yang boleh menafsirkan bahasa dalam berbagai konteks.

Terutama karena penggunaan bahasa terkait dengan banyak aspek kehidupan sosial, termasuk penegakan hukum di dalamnya.

Bagaimana dengan kita?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak pernah henti menyelenggarakan berbagai kursus dan pelatihan bahasa. Pusat Pengembangan Bahasa juga melakukan kegiatan yang terus menerus memperkaya bahasa Indonesia, sesuai dengan perkembangan era.

Tak hanya itu. Sejumlah komunitas dan organisasi, juga melakukan berbagai forum alih pandangan dan sikap terkait dengan perkembangan bahasa. Terutama, bahasa yang dipergunakan dalam media arus utama dan media sosial.

Kendati demikian, belum seluruh kalangan secara sadar meningkatkan keterampilan dan kefasihan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Termasuk para pejabat negara, yang masih senang mencampur-adukkan penggunaan bahasa ibu (bahasa daerah) dan bahasa asing dalam melakukan komunikasi personal, sosial, dan politik.

Padahal, sejak 28 Oktober 1928 kita sudah menyatakan, Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, perekat nilai kebangsaan kita.

Kesemua itu terjadi, karena masih ada anggapan, penggunaan istilah dari bahasa ibu atau bahasa asing, memberi nilai lebih pada proses komunikasi yang dilakukannya. Bahkan, ada kecenderungan mendahulukan kemampuan berbahasa asing, karena kita memasuki era global.

Kita nyaris tak punya keberanian untuk berusaha gigih menjadikan bahasa nasional kita, justru sebagai bahasa yang layak dan patut dipergunakan di era global. Padahal, di dalam bahasa – seperti ditunjukkan Perancis – tersimpan ruh kedaulatan bangsa.

Hampir setiap hari, kita cenderung disuguhkan beragam kesalahan dan kekeliruan dalam berbahasa. Akibatnya terjadi distorsi komunikasi.

Kesalah-fahaman meruyak kapan saja dan menyeret siapa saja. Sikap tidak taat asas terhadap kesepakatan juga terjadi. Celakanya, kita cenderung membiarkan salah faham sebagai kebiasaan. Dan ketika salah faham menawarkan kecenderungan konflik antar masyarakat, yang dilakukan bukan mengatasi masalah utamanya: kerancuan komunikasi. Tetapi, menyeret persoalan ke sana dan ke mari, sesuai dengan hasrat dan kepentingan politik.

Rasanya sudah tiba masa melakukan pelatihan khas Bahasa Indonesia bagi para calon petinggi atau penyelenggara negara dan pemerintahan. Kelak, perlu kebijakan negara, menjadikan kemahiran dan kefasihan berbahasa Indonesia sebagai mata uji kelayakan dan kepatutan para calon penyelenggara negara dan pemerintahan.

Kita perlu berikhtiar melatih keterampilan berbahasa Indonesia sebelum “bahasamu menerkammu.” | 

Editor : sem haesy
 
Budaya
17 Nov 17, 06:56 WIB | Dilihat : 401
Masjid Raya Al Mashun Sisa Digjaya Kesultanan Deli
21 Okt 17, 09:27 WIB | Dilihat : 1069
Ruh Budaya Betawi dalam Lukisan Sarnadi Adam
06 Okt 17, 17:21 WIB | Dilihat : 1459
Choreopainting Revki dan Daya Magis Biola
13 Jan 17, 23:30 WIB | Dilihat : 204
Diplomasi Lewat Seni Budaya
Selanjutnya
Energi & Tambang
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 612
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 834
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya