Inisiator Gerakan Jakarta Maghrib Mengaji

Aslih Ridwan Anak Betawi Dai Kaum Bawah

| dilihat 608

Lelaki bersahaja, itu bernama Aslih Ridwan. Anak Betawi dari bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Lelaki rendah hati, yang menyembunyikan gelar akademiknya dan mentabal dirinya sebagai 'da'i kaum bawah,' ketika banyak kalangan terbuai mimpi menjadi 'da'i kaum atas,' dengan segala atribut sosial.

Lama tak bersalam kabar, Rabu (15/04/20) Aslih berkomunikasi via saluran bimbit dengan saya. Mulanya tentang bukunya yang akan terbit (sedang dalam proses cetak), bertajuk, "Kepemimpinan Da'i dalam Membangun Peradaban Umat."

"Nanti abang bedah buku saya, ya.." ungkapnya, sambil kemudian mengirimkan video dirinya menyambut Ramadan dan menghidupkan semangat umat dalam menghadapi serangan virus corona.

Aslih menggali tradisi -- yang merupakan ekspresi budaya -- kaum Betawi. Mengaji selepas Maghrib. Tradisi ini sudah lama surut, bahkan nyaris terkikis, sejak teknologi transistor di penghujun tahun 1960-an lebih gencar menawarkan lagu dangdut dan siaran televisi ke dalam rumah.

Pada masa peralihan musik melayu bermetamorfosa dengan dangdut, itu tradisi mengaji selepas maghrib berangsur mengalami degradasi. Meski sampai dekade 70-an tradisi itu masih tetap ada dan berkembang.

Bisa dipastikan, pada dekade 70-an itu di seantero Jakarta, anak-anak Betawi tak keluar rumah, sampoai salat Isya' berakhir. Belajar mengaji, mulai dari mempelajari tata bahasa Arab (nahwu, sharaf, mantik, bayan) sampai qira'atus sab'ah, tujuh cara membaca al Qur'an.

Pada dekade itu, di kampung-kampung pinggiran Jakarta, seperti Cilandak, Pondok Labu, Lebak Bulus, Ciputat, Bintaro, Pasar Minggu, Jagakarsa, Ragunan, Ciledug, Pesanggrahan dan lainnya di wilayah Jakarta Selatan, selalu terdengar bocah-bocah mengaji di berbagai langgar alias musalla. Para ustad alias guru mengaji akan terlihat meninggalkan langgar dengan obor di tangan, melintasi jalan setapak di bawah rerimbun pohon buah-buahan ataupun rumpun bambu.

Pada dekade 80-an, ketika tradisi itu dihendak dihidupkan kembali oleh Departemen Agama DKI Jakarta, lewat program Gemmar - Gerakan Maghrib Mengajio - tak bisa jalan. Lantaran program dari atas ke bawah, sedangkan masa itu sedang ngetren semangat 'buttom up.'

Tahun 2017, ba'da salat Shubuh, di hari H pencoblosan Pilkada DKI Jakarta, gagasan menghidupkan kembali tradisi itu mengemuka. Persisnya, saat berlangsung kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Baitunnur Lebak Bulus 1 Cilandak Barat.

Aslih bercerita. Saat itu, hadir Anies Baswedan, Calon Gubernur DKI . "Saat itulah saya menyampaikan dalam kultum, perlunya menghidupkan kembali tradisi yang nyaris hilang, itu," cerita Aslih.

"Kalau Pak Anies yg menang, sebagai bagian dari orang Betawi, saya minta program Maghrib Mengaji, itu didukung," tambahnya.

Ada dua hal yang memotivasi Aslih mengajukan gagasan itu. Selain menghidupkan kembali tradisi kaum Betawi, juga mengembalikan Jakarta senbagai metropolitan yang tetap relijius.

Secara spontan Anies menyatakan persetujuan dan siap memberikan dukungan.  

Setelah Anies dinyatakan menang dan kemudian dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ide Gerakan Jakarta Mahrib Mengaji disampaikan pula ke Walikota Jakarta Selatan, Marullah Matali.

Pertemuan itu, sekaligus menetapkan hari Sabtu, 25 Agustus 2018 sebagai momentum dimulainya Gerakan Jakarta Maghrib Mengaji di Masjid Daarul Ihsan, Lebak bulus V Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Dari sinilah gerakan bermula dan kemudian menyebar keseluruh pelosok Jakarta.

Walikota Jakarta Selatan, Marullah Matali sejak awal gerakan dilaksanakan, turun langsung di 10 kecamatan. Di halaman Masjid Darul Ihsan, Kecamatan Cilandak,  Wali Kota menyalakan obor tanda dimulainya Gerakan.

"Menyalakan obor menandai dimulainya lagi gerakan dengan kobaran semangat yang menyala-nyala, sekaligus mengingat ulang masa-masa para guru ngaji mengunjungi murid-muridnya yang belajar di langgar, di masa lalu," kata Aslih.

Titik terakhir (ke 10) gerakan itu, berlangsung di Kecamatan Kebayoran Baru di Masjid AlKautsar, yang  dihadiri pula oleh Wakil Ketua MPR, Hidayat Nurwahid.

Jakarta Mahgrib Mengaji di wilayah kota Jakarta Selatan kadang dilakukan dengan menggowes psepeda secara bersama sama menuju masjid,

Setelah sukses di Jakarta Selatan, Gerakan ini merambah ke wilayah jakarta pusat. Walikota Jakarta Pusat, Bayu membuka Jakarta Maghrib Mengaji di wilayahnya.

Dari sini, gerakan merambah ke Jakarta Utara, kemudian ke Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu.

Menurut Aslih, "Gerakan Jakarta Maghrib Mengaji sungguh model gerakan masyarakat, digerakan dari bawah ke atas. Pemerintah memainkan fungsinya sebagai fasilitator, sedangkan masyarakat aktif bergerak." Hal ini, tambah Aslih, menumbuhkan semangat kebersamaan pemerintah DKI Jakarta dengan masyarakatnya, sekaligus menimbulkan hubungan harmonis antara pemimpin dengan rakyatnya.

Kini Gerakan Jakarta Maghrib Mengaji dibawah kordinasi DMI (Dewan Masjid Indonesia) DKI Jakarta yg bersinergi dg Forum Jakarta Maghrib Mengaji dan GPMI DKI Jakarta.

Aslih mengemukakan, tujuan dan idikator gerakan ini adalah menghidupkan kembali nilai nilai kearifan lokal masyarakat yg mulai pudar karena tergerus globalisasi serta memberantas buta aksara Al Qur'an.

Diharapkan dengan gerakan itu, minat mengaji di masjid atau musalla, meningkat. Indikator keberhasilannya, tak hanya meningkatnya jumlah anak yang melek al Qur'an, jauh dari itu adalah menurunkan atau menekan gejala friksi dan konflik sosial, menjalarnya penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas.

Dikatakannya, pada putaran pertama, fokus gerakan ini baru pada tahapan tilawah (membaca). Tahap berikutnya adalah tataran memahami (Fahman), kemudian Hifzon ( menghapal ) dan Wa 'amalan ( mengaplikasi ajaran yang terkandung dalam kehidupan. Artinya, kata Aslih, gerakan merupakan  gerakan dengan tahapan yang memerlukan nafas panjang dan kesabaran. Apalagi kini, ketika dihadang denganb 'serangan' nanomonster virus COVID-19.

Suksesnya gerakan Jakarta Maghrib Mengaji menginspirasi sejumlah daerah lain di Indonesia. Aslih diundang khusus bicara tentang Maghrib Mengaji di Masjid At Taqwa, Cirebon dan mempresentasikan gerakan itu di depan Bapak Wali Kota Cirebon, H Nasrudin Azis SH bersama jama'ah Masjid tersebut., pada pada tanggal 22 september 2019. 

Da'i kaum bawah yang tawaddu' ini selalu semangat bicara tentang gerakan yang diinisiasinya, itu sebagaimana dia selalu bergairah menghidupkan tradisi kearifan dan kecerdasan lokal untuk memadupadan pengetahuan agama dan pemberdayaan sosial kalangan masyarakat awam.

Saya mensupport Aslih, sesuai prinsip hidup yang sudah lama saya genggam: lebih baik menjadi akarpadi daripada menjadi ranting pohon yang getas. Aslih menjadi salah satu sahabat yang saya sangat hormati, karena banyak mentransfer aura positif. Kian tinggi ilmunya, kian merunduk dirinya..

Saya suka kelakar Aslih, yang diucapkan dengan nada serius, "kita hanya boleh sombong menghadapi orang pongah." | Bang Sem.

Editor : Web Administrator
 
Budaya
21 Sep 20, 18:56 WIB | Dilihat : 241
Mengeja Marifat Lewat Pantun Ahmad Zacky Siradj
17 Agt 20, 10:37 WIB | Dilihat : 344
Kemerdekaan
20 Jul 20, 00:16 WIB | Dilihat : 439
Dimensi Kata di Tangan Sapardi Djoko Damono
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1450
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1857
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1007
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1431
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya