Allah Menyapa

| dilihat 150

n. syamsuddin ch. haesy

I

Allah menyapa dengan lembut. Mengutus virus yang tak pernah kalian kenali sebelumnya, di penghujung masa, ketika sains dan teknologi kalian kawinkan dengan kekuasaan nan pongah laksana farau Ramses II memaknainya.

Kalian persekutukan dengan kebebasan insani tanpa batas menciptakan miliaran tuhan di sukma miliaran manusia yang kehilangan akal, cinta dan kasih sayang, laksana Tsamud berkecak pinggang meludahi matahari.

Ketika nalar bersimpang jalan dengan nurani berjarak amat jauh dengan rasa, kala kalian tertimbun oleh tumpukan angka-angka kumulasi riba yang kalian dulang bersama uranium, platinum, berlian, emas, tembaga, perak, nikel, bauxit, pasir besi, batubara, laksana Qarun menghitung harta berbilang-bilang nan tak terbilang.

II

Allah menyapa dengan lembut tanpa senyuman. Mengutus virus nanomonster yang merebak ke seantero jagad, ketika kalian menenggelamkan hakekat aksara dan kata dalam timbunan angka-angka tempat kalian rayakan ketamakan dan kebakhilan, mengibarkan bendera kekuasaan di tiang ketimpangan menghunjamkan ketidak-adilan ke dasar bumi, karena kalian merasa kibaran bendera kedigjayaan menghias langit semesta raya, setelah kalian koyak gelombang frekuensi radio peradaban tanpa kemanusiaan. Selepas daratan dan samodera kalian eksploitasi tanpa adab. Kalian robohkan gunung-gunung. Kalian tebangi hutan-hutan. Kalian perkosa perut bumi, lantas kalian tinggalkan sebagai bengkalai peradaban yang tak pernah kalian kenali lagi apa namanya.

Kalian racuni udara dengan aneka racun pabrik dan asap pekat kebakaran hutan, yang kalian sembunyikan di balik bentang miliaran kilah yang menutupi semesta raya dengan dusta kepongahan yang teramat pandir sepanjang masa.

Kalian perkosa semesta raya dengan laku lajak, polah binal tak kenal akhlak, yang kalian rayakan dengan lomba senjata, teror dan perang tak usai sudah, lantaran otak kalian hanya mengenal sesanti: “Tak pernah ada damai tercipta tanpa perang meluas di mana-mana.”

III

Allah menyapa lembut dengan kematian jutaan manusia yang kalian anggap sebagai keniscayaan, karena di hati kalian tak pernah ada lagi tempat untuk Dia beroleh hak-Nya untuk dipatuhi. Kian hari kian sempit ruang-Nya, karena terlalu banyak tuhan selain Dia, yang kalian berikan ruang semayam terlalu luas.

Jangan salahkan nanomonster virus yang adanya selinap di jasad jenazah yang kalian makamkan dengan sunyi.Yang adanya terasa dalam sengal nafas di ruang-ruang gawat darurat hospital, di lembaran kertas hasil tes tular positif dan negatif yang serba amat sementara. Yang adanya berada di perdebatan sentak sengor para ilmuwan dalam dugaan-dugaan tak pasti.

Jangan salahkan nanomonster virus yang adanya berada di perdebatan politik politisi yang tak pernah mengenali siapa sungguh dirinya. Yang adanya melekat dalam bilangan angka-angka utang yang terus bertimbun, dalam bualan kaum polinomis yang membungkus kepentingan ekonomi di balik kebijakan politik, yang duduk gelisah, berdiri canggung.

IV

Allah menyapa dengan lembut lewat luah lava dan sembur awan panas gunung berapi, ketika lahar cair menunggu giliran menghambur ke udara. Lewat banjir bandang yang tak kan terhadang dan terus meradang. Lewat tanah longsor, luruh bongkah es di kutub utara. Lewat tanah retak yang terus bergerak membentuk celah-celah bumi tempat manusia terpelanting masuk dan tergencet tanpa bisa ditolong oleh sesiapa.

Allah menyapa dengan lembut lewat kemiskinan tak terkendali yang berubah jadi bara marah di berbagai belahan dunia. Yang mengguncangkan pilar-pilar kekuasaan kaum pongah yang membentang jarak teramat jauh dengan rakyatnya. Yang menimbun asa, harapan, dan optimisme dengan apatisme dan keteracuhan, hingga kuasa dan penguasa hilang makna. Kuasa dan asa yang adanya tak menggenapkan dan tiadanya tak mengganjilkan.

Allah menyapa dengan halusnya kesadaran sedikit kaum berakal budi, sedikit orang bijak, yang gumamnya bersama simbah air mata selepas tengah malam, merasakan ramai dalam sunyi. Kaum yang dari getar bibir mereka terdengar suara batin:

 "Allah tiada tuhan berkuasa melampaui kekuasaan-Mu, hamba tiada daya, berikan hamba sedikit lagi kesempatan untuk sentiasa tunduk runduk hanya kepada-Mu saja. 

Allah.. di hadapan-Mu hamba bukanlah sesiapa dan bukan juga apa-apa. Ampuni dosa-dosa dan penghianatan hamba kepada-Mu.

Allah.. nyawa hamba ada pada kuasa-Mu.

Allah.. hamba menyerah kepada-Mu

Allah.. balikkan hati hamba tuk taubat sesungguh taubat..

Allahu Allah Allahu Allah Allahu Allah."

 

Jakarta, 31/01/2021 ]

Editor : eCatri | Sumber : connected tilik_id
 
Polhukam
01 Mar 21, 11:09 WIB | Dilihat : 115
Fenomena Politik Miras
02 Feb 21, 19:50 WIB | Dilihat : 215
Penguasa Militer Myanmar Tak Peduli Ancaman Joe Bieden
01 Feb 21, 00:29 WIB | Dilihat : 185
Hari Hijab Nasional Filipina Mulai 1 Februari 2021
Selanjutnya
Energi & Tambang