Abah Iwan Dian Tak Pernah Padam

| dilihat 4594

Catatan Sem Haesy

RIDWAN Armansjah Abdulrachman yang dikenal sebagai Iwan Abdulrachman alias Abah Iwan, bukan hanya sekadar nama. Kakek berusia 71 tahun, kelahiran Sumedang, 3 September 1947, itu bagi saya adalah ‘suar kebajikan.’

Padanya melekat beragam atribut. Musisi, seniman, budayawan, pendaki gunung, penjelajah rimba, pelatih militer, pesilat, pengayuh sepeda, penziarah kearifan, penebar kebajikan yang mendorong hidup berakar cinta berbatang simpati dan empati.

Selain menjadi penggiat perkumpulan pendaki gunung dan penjelajah rimba Wanadri – Bandung, pendiri dan penggerak GPL (Grup Pecinta Lagu), Abah penulis lagu fenomenal. Lagu-lagu gubahannya: Mentari, Burung Camar, Flamboyan, Melati dari JayagiriSeribu Mil lebih Sedepa, Detik Hidup, dan lainnya, merasuk dalam kenangan hidup sebagian besar masyarakat.

Abah juga menulis berbagai hymne organisasi, institusi, dan instansi. Sebutlah itu, Hymne Universitas Padjadjaran, Hymne Universitas Mulawarman, Hymne Wanadri, Hymne Rumah Sakit Hasan Sadikin, dan lainnya. Tembang-tembang penyimpan komitmen untuk peduli terhadap cita-cita kemanusiaan, tempat hati dan jiwa dipadukan. Penanda kedalaman hasrat mengabdi dan berbakti kepada manusia, nusa, bangsa, alam, dan Tuhan.

Saya belajar banyak hal dari Abah. Tak hanya tentang nasionalisme, keperwiraan, religiusitas, hakekat hidup dan kehidupan. Tapi juga tentang cinta sepenuh kasih sayang untuk memaknai esensi hidup: damai dalam kebersamaan.

Trubadur Indonesia

BUNYI dawai gitar dan getar suara Abah setiap melantunkan lagu-lagunya, tak hanya menunjukkan kepiawaiannya memainkan jemari memetik nada dan birama. Jauh dari itu, Abah meresonansi dinamika kehidupan, dan mentransformasi nilai hakiki tentang saudara dan persaudaraan.

Tapak-tapak kakinya setiap mendaki gunung, bahkan ke puncak-puncak tertinggi di dunia, tak hanya meninggalkan jejak peristiwa pendakian itu sendiri. Pada setiap tapak kakinya, seolah menjadi monumentasi keberjayaan Indonesia di sana. Monumentasi yang menghantarkan berkibarnya merah putih, ‘lambang suci gagah perwira.’

Tak salah, bila Kuntoro Mangkusubroto menyebutnya trubadur Indonesia. Lelaki yang memaknai hidup sebagai pengembaraan mencapai kesahajaan sebagai hakekat tertinggi dari eksistensi manusia. Peziarah perkembangan peradaban dan keadaban yang menjadikannya pelaku, penulis, saksi, dan pengabar sejarah kehidupan. Termasuk sejarah kehidupan perjalanan bangsa.

Pada setiap repertoarnya, Abah selalu menebar begitu banyak benih kebajikan di ladang permenungan yang luas. Benih yang laksana api semangat tak pernah padam ketika di tanam di sukma terjaga. Semangat optimisme, semangat perjuangan untuk menjadi subyek atas kondisi kehidupan yang harus lebih baik dan lebih baik lagi.

Abah adalah seorang yang tak pernah henti memanifestasikan prinsip: “nu jauh urang deukeutkeun, geus deukeut urang layeutkeun, geus layeut urang paheutkeun, geus paheut silihwangikeun,” dalam kearifan lokal Sunda. Mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, mengukuhkan komitmen saling memuliakan. Sebagaimana tercermin dalam falsafah “pada idi’ pada elo’ sipatua sipatokong,” dalam kearifan Bugis.

Insan Kamil

ABAH Iwan juga seorang yang tak pernah lelah mengingatkan kita untuk tidak menjadi manusia yang pandai bersyukur, dan tidak mengubah “rumah besar” Indonesia menjadi gubuk yang kecil nan pengap.

Ia selalu mengingatkan kita hidup harmonis. Tidak mudah mencerca, mencaci, dan melukai orang lain. Lalu, membebaskan diri kita dari cengkeraman paradoks human relations. Paradoks yang menempatkan kita pada dua titik ekstrim: teman dan musuh. Karena pada dasarnya, manusia diciptakan Tuhan dari ‘umat yang satu,’ lalu berpuak-puak, bersuku-suku, berbangsa-bangsa agar satu dengan lainnya bersatu dan menyatu kokoh sebagai manusia mulia, insan kamil.

Kepedulian Abah terhadap alam dan lingkungan sebagai salah satu medium mengekspresikan cinta kepada Tuhan, tercermin dalam lagu-lagunya.

Hal ini bermakna, alam dan lingkungan tak hanya merupakan sumber inspirasi, akar kreativitas dan inovasi. Alam dan lingkungan adalah sarana kehidupan agar manusia lebih mendalam mengenali dirinya, sehingga kelak mengenal Tuhan-nya.

Abah Iwan masih terus berdendang dan mengisahkan beragam makna hidup yang tersimpan di dalam lagu-lagunya.

Empat Nilai

ABAH Iwan juga sering mengingatkan kita tentang hakikat dan dimensi kedalaman komitmen kebangsaan, setiap kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, karya WR Supratman.

Ia mengingatkan kita tentang hakikat empati sebagai jalan menuju persatuan Indonesia yang utuh. Ia juga mengingatkan kita tentang pengembangan nalar positif dilandasi hati jernih dalam memandang setiap persoalan. Khasnya, di tengah perubahan bangsa.

Setiap kali menyimak pandangan-pandangannya, terasa transformasi kebajikan Abah. Menyegarkan kembali komitmen kebangsaan dari begitu banyak nilai yang terserak. Paling tidak, empat nilai asasi yang sedang terombang-ambing kini. Yaitu: integrity, wisdom, akhlak, dan nasionalisme.

Integrity atau integritas diri yang terpelihara di dalam diri dan dikontribusikan melalui karya kebajikan di dalam kehidupan sosial, akan berbuah human dignity. Ketika dihimpun bersama dalam integralitas kebangsaan, akan menjadi nation dignity.

Wisdom atau kearifan, yang digali dari begitu banyak nilai kearifan lokal, termasuk dalam alam lingkungan dan budaya, akan melahirkan kehidupan positif. Kelak, menjadi kearifan bangsa dalam bergerak melintasi perubahan zaman.

Akhlak, termasuk tata krama terhadap alam dan lingkungan, akan membentuk kesalehan personal. Ketika dihimpun dan dimanifestasikan bersama, berkembang menjadi kesalehan sosial.

Nasionalisme yang berdimensi luas, bukan sekadar narrow nationalisme, akan membantuk keperwiraan dan patriotisme. Kelak, ketika diamalkan secara kolektif, akan menjadi social responsibility dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan bangsa dan negara.

Dian Tak Padam

ADALAH kenyataan, kini di tengah proses konsolidasi demokrasi, kita sebagai masyarakat, negara, dan bangsa seolah limbung. Seolah kehilangan dimensi ke-Indonesia-an yang kokoh utuh.

Bangsa yang semacam ini tentu tak akan pernah maju. Boleh jadi, akan menggelosor ke jurang kehancuran. Padahal, para founding fathers bangsa ini, telah memancang pilar kebangsaan sebagai saka utama konstruksi peradaban Indonesia sebagai peradaban unggul.

Suatu hari Abah Iwan, berkata perlahan, “Setiap kita akan mati, tanpa pernah tahu, kapan waktunya.” Maknanya, sepanjang masih beroleh hidup dan kehidupan, jangan pernah berhenti menebar kebajikan.

Saya berdo’a, semoga Abah Iwan diberi usia yang cukup oleh Tuhan, sehingga nyala api pengabdian, bakti, dan kepedulian terhadap manusia, alam lingkungan, dan bangsa tak pernah padam.

Bagi saya, Abah Iwan, nyala dian kebajikan tak pernah padam. |

Editor : sem haesy
 
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 188
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 535
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 301
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 296
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya
Polhukam
18 Okt 18, 21:22 WIB | Dilihat : 185
Zahid Hamidi Ditangkap, UMNO Marah
16 Okt 18, 13:49 WIB | Dilihat : 371
Rima Politik Malaysia Selepas Anwar Kembali ke Parlemen
04 Okt 18, 13:17 WIB | Dilihat : 469
Memulai Percakapan Penguasa dengan Rakyat
01 Okt 18, 22:27 WIB | Dilihat : 411
Menjadi Pemilih Berdaulat
Selanjutnya